BUMN Karya Panen Proyek IKN

BUMN Karya Panen Proyek IKN

Kurotekno.com – JAKARTA – Beberapa BUMN Karya menggarap proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Tak ketinggalan, investor strategis seperti Indonesia Investment Authority (INA) juga tidak menutup diri untuk terjun.

Perusahaan-perusahaan pelat merah itu di antaranya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Hutama Karya (Persero) atau HK.

Sampai September, Waskita Karya tercatat berhasil menggenggam beberapa proyek IKN di antaranya proyek Jalan Tol IKN Segmen Simpang Tempadung-Jembatan Pulau Balang sebesar Rp 990 miliar, pembangunan Jalan Kerja/Logistik IKN (KIPP) Paket Pembangunan Jalan Lingkar Sepaku Segmen 4 sebesar Rp 182 miliar, pembangunan Gedung CMU3 RSCM Jakarta sebesar Rp 252 miliar, pekerjaan Sipil Mining Area di NTB sebesar Rp 262 miliar.

“Selain pencapaian NKB, sampai September 2022 perseroan masih mengikuti tender proyek dengan nilai mencapai Rp 20 triliun yang bersumber dari pemerintah, BUMN maupun swasta,” ujar Sekretaris Perusahaan WSKT Novianto Ari Nugroho dalam keterangan resmi, Selasa (18/10/2022).

Menurut dia, adanya partisipasi pada proyek IKN dan didukung dengan tingkat winning rate sebesar 26,67% selama sembilan bulan pertama 2022 membuat perseroan lebih optimistis untuk mengejar target sebesar Rp 20-30 triliun pada tahun ini.

Di luar Waskita, Wijaya Karya dan Hutama Karya tercatat sukses mengantongi proyek IKN dengan nilai menembus Rp 6,5 triliun.

Hingga September 2022, WIKA membukukan total kontrak di proyek IKN sebesar Rp 1,1 triliun terdiri dari pekerjaan jalan tol segmen KKT Kariangau-Simpang Tempadung dengan porsi sekitar 38% atau ekuivalen Rp 730 miliar dan bangunan modular untuk rusun pekerja sebesar Rp 830 miliar.

“Untuk menangkap peluang pembangunan IKN, WIKA tengah mengikuti tender beberapa proyek IKN senilai sekitar Rp 9 triliun. Berdasarkan potensi pekerjaan yang ada di masa mendatang, ditambah kompetensi dan pengalaman yang dimiliki perusahaan, kami yakin akan dapat memenangkan kontrak-kontrak pekerjaan IKN yang akan ditenderkan,” papar Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya baru-baru ini.

Sementara Hutama Karya, tercatat telah memenangkan paket kontrak pekerjaan jalan tol proyek IKN sekitar Rp 3,2 triliun. Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto menyebut, perseroan sampai saat ini telah memenangkan paket pekerjaan jalan tol proyek IKN yang ditenderkan PUPR senilai sekitar Rp 3,2 triliun.

“Tapi, kalau tol ditambah proyek gedung totalnya bisa mencapai Rp 4-5 triliun. Adapun jalan tol tahapan saat ini dalam persiapan konstruksi,” ungkap Budi Harto kepada media baru-baru ini.

Sedangkan Adhi Karya, hingga September 2022 berhasil mengantongi kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun yang banyak dikontribusikan dari proyek pembangunan IKN.

Berdasarkan informasi perseroan, ADHI merealisasikan perolehan kontrak baru sampai September 2022 sebesar Rp 18,1 triliun. Nilai tersebut meningkat sebesar 57,3% dibandingkan perolehan kontrak pada September 2021 yang lalu.

Menurut Corporate Secretary ADHI Farid Budiyanto, pembangunan Ibu Kota Negara Baru (IKN) telah berkontribusi dalam perolehan kontrak hingga September 2022 dengan total nilai kontrak sebesar Rp 1,4 triliun.

Rinciannya, perolehan kontrak tersebut didominasi proyek pembangunan Jalan Tol IKN Seksi 3A Segmen Karangjoang-Kariangau dengan nilai kontrak Rp 1,1 triliun. Selain itu, ADHI juga memperoleh kontrak pekerjaan proyek pembangunan hunian pekerja dan fender jembatan Pulau Balang.

Profil kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru sampai September 2022 meliputi lini bisnis konstruksi sebesar 90%, properti sebesar 6%, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Farid menambahkan, selain lini bisnis, kontrak ini juga mencakup berbagai tipe pekerjaan yang terdiri dari proyek jalan dan jembatan sebesar 40%, gedung sebesar 12%, proyek infrastruktur lainnya seperti pembuatan dermaga, jalur kereta api, sumber daya air dan proyek energi, serta proyek lainnya sebesar 48%.

“Peningkatan kontrak baru ini diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan bagi ADHI,” tutur Farid.

INA

Terkait proyek IKN, Juru Bicara INA Masyita Crystallin mengatakan sebagai entitas komersial, INA mendapat mandat untuk menciptakan kekayaan melalui disiplin investasi yang ketat sehingga INA dapat tumbuh dengan tugas membangun kekayaan untuk generasi masa depan Indonesia.

“Kami selalu berhati-hati memilih proyek di mana kami berinvestasi, melakukan uji tuntas (due dilligence) yang ketat untuk memastikan bisnis layak secara komersial, memberikan return yang optimal bagi seluruh stakeholders, serta mematuhi prinsip-prinsip GCG dan ESG,” kata Masyita kepada Investor Daily, Selasa (18/10).

Menanggapi geliat proyek IKN, Ekonom Universitas Surakarta R. Agus Trihatmoko mengamati bahwa secara teoretis di setiap titik proyek pembangunan dan pusat pemerintahan akan berdampak positif terhadap laju perkembangan ekonomi di wilayah tersebut.

“Keberadaan masa depan IKN akan relevan dengan teori tersebut. Artinya di luar Jawa, khususnya Kalimantan dan Indonesia Timur akan menjadi pusat-pusat ekonomi, termasuk industrialisasinya,” kata Agus kepada Investor Daily, Selasa (18/10).

Selanjutnya, para investor juga akan mengkalkulasi peluang tersebut. Hanya saja, Agus menyoroti efisiensi produksi dan biaya operasional menuju pasar di setiap produk.

Pada poin manajemen bisnis dan pemasaran itu, lanjut Agus, akan menjadi pertimbangan penting para investor. Untuk produk dengan sasaran pasar dalam negeri khususnya barang konsumtif tentu tidak relevan. Mengingat, pasar terbesar berada di Jawa-Bali dan Sumatra.

Selain itu, banyak korporasi yang saat ini eksis memiliki pabrik di sentra-sentra industri di Jawa, sehingga untuk relokasi pabrik jelas berbiaya investasi besar. Kecuali, mereka akan ekspansi mengcover pasar Indonesia Timur.

Kemungkinan yang paling tepat, kata dia, adalah investor industri berat atau sejenis yang biaya transportasinya tidak signifikan berimplikasi kepada harga produk. Menurutnya, mereka akan memilih ke sana ketika memang infrastrukturnya memadai dan tentu investasi properti lebih murah daripada di kota besar di Jawa.

Sementara itu, di Jawa dan Sumatra saat sekarang masih cukup luas untuk investasi pabrikasi. Ditambah dukungan infrastruktur yang relatif baik. Demikian analogi tersebut berlaku bagi investor dari asing atau multinational company. Biaya operasional dan modal akan menjadi keputusan strategis, termasuk di dalamnya ongkos tenaga kerja.

“Kita perlu ingat beberapa perusahan multinasional pabriknya hengkang dari Indonesia ke Vietnam,” ujar Agus.

Hal itu merupakan pertimbangan biaya produksi dan biaya tenaga kerja. Padahal Kalimantan Timur saat sekarang saja jauh lebih mahal dari biaya tenaga kerja di Jawa. Prospek lain yang akan jelas tumbuh langsung adalah investasi properti dan juga industrialisasi yang menopang pasar Kalimantan Timur, Selatan dan Utara, termasuk Indonesia Timur lainnya yang terdekat.

“Memang tidak besar dalam jangka pendek, tetapi untuk jangka panjang 25 tahun ke depan tentu prospeknya besar,” tambahnya.

“Pada intinya, jika IKN dibangun untuk tujuan ekonomi saat ini saya secara pribadi tidak sependapat. Banyak cara atau strategi lain dalam pemerataan pembangunan di Kalimantan dan Indonesia Timur. Tetapi jika IKN memang akan difokuskan sebagai pusat pemerintahan dapat dimaklumi. Hanya saja apakah harus terburu-buru adalah sangat terbuka untuk dikaji ulang. Mengingat, keuangan negara sedang tidak baik baik saja seperti beban utang negara sudah sangat besar, termasuk jatuh temponya,” paparnya.

Sementara itu, Agus menambahkan, untuk menambah utang memang potensial, tetapi hari ini tampak di depan mata resesi ekonomi global mulai terjadi. Bahkan tahun 2023 akan menjadi kondisi yang sulit diprediksikan.

“Para elit dan Presiden Jokowi sendiri menyadari dan mengetahui kondisi tersebut. Jadi apakah IKN menjadi prioritas strategis pembangunan ekonomi dalam jangka pendek?” tandas Agus.

Close
Minimize
Page:
...
/
0
Please Wait
...
Second
Code: